Aku berada di padang rumput yang luas dimana aku bisa berlari, bernyayi, dan menari sepuas yang ku mau. Namun bagaimana mungkin aku bisa berlari jika utas tali ini masih menjerat kedua kakiku dengan erat. Bagaimana mungkin aku bisa bernyanyi jika perekat ini terus membungkam bibirku dengan lekat hingga tak mampu aku bersua. Bagaimana mungkin aku bisa menari jika kedua tanganku menyatu dan tak ada cara untuk melepaskannya berharap aku bisa mengepakkan sayap seperti kupu-kupu jingga itu yang hilir mudik mencari nektar meski bersaing dengan lebah.
Aku terperanjat, kini yang tersisa hanya sepasang mata untuk menatap luas padang hijau dan sebuah hidung sebagai indera untuk menghirup aroma embun dipagi buta ini. Tampak di atas jembatan itu, seorang yang menyapu pandangan seakan ingin menyaksikan setiap sudut-sudut kecil di padang hijau ini. Sekali lagi tatapan itu terhenti padaku, dan membuangnya, menatap lagi, dan membuang. Apa yang salah denganku ?
Aku mencoba mengais setiap hal yang menempel pada tubuhku, tak ada yang berbeda-seperti biasa. Aku mencoba menyunggingkan senyum, ah senyum ini berasa payah. Dia kembali menatapku sekilas, dan menatapku lebih dalam, namun tak membalas senyumku, dan dia berjalan melewatiku. Aku masih bisa melihat punggungnya menjauh hingga menghilang. Bolehkan aku bertanya ? Sebenarnya aku ini siapa ? Dan aku merundukkan kepala, menarik napas panjang dan kuhembuskan. Uh poni ini menutup keningku, mana peduli aku. Aku hanya merasa kesal, karenanya, aku mengenali orang tadi, begitupun dia kecuali jika memang dia berusaha tidak mengenaliku, oh atau mungkin dia amnesia, bodoh.
Disaat seperti ini pun aku masih ingin tersenyum bebas, tertawa lepas. Hingga saat ia kembali, tersenyum, menyapaku, aku pun terdiam. Sama sepeti dia, dingin membalas senyumku ketika ia diatas jembatan. Ini bukan balasan, namun aku sedang tidak ingin lagi memekik, biar saja suara ini lenyap dalam aroma embun pagi atau tersesap oleh terik matahari disiang nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar