Menemaniku melintasi pekatnya malam. Dalam pijar, unggahnya seutas cerita. Hingga membuatku
bisa melihat sesuatu yang indah di kala petang. Aku tak lagi takut gelap. Tentang
untuk kesekalinya aku menemuimu. Hanya denganmu. Lilin.
Tangkai yang masih ku genggam, ku kibaskan menompang angin. Dalam
hamparan lahan yang luas, dan biji bunga matahari yang bertebaran. Saat bayanganku jatuh tepat di
bawahku, tepat tengah hari. Waktu membawaku melihatmu. Dengan seruling yang kau
coba lantunkan menjadi sebuah nada. Dandelion.
Kubuka tirai jendela.
Tampak hanya sebuah bintang menyelinap dalam terpaan
kabut. Perlahan angin malam menyapu langit, bersih kemudian. Nampak sebuah benda terang di atas sana, dan kumulai menghayalkanmu. Bulan.
Serangkai alenia yang
tertuang di secarik kertas, tentangmu. Bagaimana saat kau berikanku sebalok
coklat di hari penuh kasih. Bagaimana saat kau tersenyum melihatku melangkahkan
kaki mendekatimu. Bagaimana saat kita bersepeda melintasi padang rumput, kita
saling berkebutan hingga aku jatuh tersungkur dan kau robek kain bajumu untuk
balut lukaku. Pena.
Tangkai kuas dengan lumeran warna di pangkalnya. Memoleskan bias
warna di bidang kanvas. Sebuah peran tentang apa yang ku pikirkan. Imajinasi
tentang sebuah pengharapan, tentang ambisi, dan tentang keinginan. Inilah aku.
Yang tersenyum memandang kejora, tentang rahasia bintang. Karena itulah yang ku
tahu. Cat.
Buliran halus yang membasuh pipiku. Ku rentangkan kedua tanganku. Ku
kaitkan kancing bajuku, dingin ini menembus permukaan kulit. Ditempat ini kau
habiskan petang bersamaku. Melihat nyiur yang melambai. Memandang gulungan
ombak yang pecah karena karang. Menyaksikan beberapa kepompong yang berburu
menyembunyikan diri dalam desir pasir. Menatap indahnya mentari yang tenggelam dalam air laut.
Disinilah aku mengenalmu. Pantai.
Tentang sesuatu yang kusuka, karena ia telah
merubahnya,
kibaskan menjadi sesuatu yang indah.
Dan kini semua berbeda